Label

Rabu, 04 Agustus 2010

Niat Haj Salah, KAKI MEMBENGKAK HINGGA SEKARANG

“Barangsiapa berhaji karena Allah lalu tidak berbuat keji dan kefasikan niscaya dia pulang dari ibadah tersebut seperti di hari ketika dilahirkan oleh ibu .” (Sabda Nabi)

Sejatinya, berhaji itu untuk mendapatkan ridha Allah. Karena itu, hindari tujuan yang macam-macam saat kita pergi ke sana. Sebab, apapun niat hati kita selama berada di sana, biasanya langsung diijabah (dikabulkan) oleh Allah.

Ini pula yang terjadi pada sosok H. Sam’an. Karena niat untuk mencari penglaris buat usaha dagangnya, justru ia terperosok ke dalam lembah yang kelam. Kakinya terkantuk batu saat berjalan hingga membuat jari jempolnya terluka. Ironinya, sakit itu masih ia rasakan hingga sekarang –beberapa tahun setelah gelar haji disandangnya.

Tradisi Pengajian

Malam itu, di rumah Bapak Sam’an terlihat banyak sekali orang. Sebagian ada yang memakai baju putih dan berkopyah hitam. Sebagian lagi ada yang tidak mengenakannnya, hanya berpakaian koko warna hitam. Sedang bagi kaum perempuannya, mereka rata-rata berkerudung dan tampak sekali-kali terlihat bercanda dan bersenda gurau.

Rupanya, mereka berkumpul untuk mengikuti pengajian yang diadakan oleh Bapak Sam’an yang sebentar lagi akan berangkat ibadah haji. Memang, di desa X Bogor, selalu ada tradisi menyelenggarakan pengajian pada beberapa malam sebelum keberangkatan seseorang ke tanah suci untuk beribadah haji. Dalam tradisi Islam, ini merupakan salah satu dari acara walimah al-shafar.

Malam itu, shohibul hajat memanggil dai kondang dari Karawang, yang suaranya seperti burung betet. Karena kalau sudah berbicara di atas mimbar, suaranya keras dan tidak bisa berhenti, sehingga banyak pendengar dibuat terpingkal-pingkal karena geli. Sam’an sendiri tampak gagah dengan kopyah warna hijau dan koko berbordir ala Tasik-nya.

Selain pengajian sebagai malam puncak walimah al-shafar, beberapa hari sebelumnya di rumah Sam’an diadakan tahlilan. Dan inilah tradisi yang kerapkali diselenggarakan di desa X, Bogor. Apalagi, bagi seorang pedagang sukses seperti Bapak Sam’an, mengeluarkan beberapa juta uang untuk mengadakan acara dalam beberapa hari pun mampu ia selenggarakan, andaikan ia mau?

Pedagang Sukses

Pergi ke tanah suci adalah puncak keberhasilan dari seorang Sam’an. Dengan biaya puluhan juta, orang kerapkali menilai mereka yang sudah berhaji adalah simbol kesuksesan. Sebab, orang yang tidak sukses, belum tentu akan bisa pergi ke tanah suci –meski untuk berhaji itu bisa saja dari uang warisan atau undian berhadiah.

Tapi, itulah klimaks dari hasil usaha yang dirintis oleh Sam’an selama beberapa tahun. Ia bisa memiliki rumah mewah, mobil yang keren dan kini akan menyandang gelar haji di depan namanya. Ya, siapapun orangnya pasti akan bangga dengan status semuanya ini –meski haji sejatinya bukan untuk mencari status sosial, tapi status agama di mata Allah.

Usaha Sam’an dimulai dari buka warung sembako di pinggir jalan. Selama beberapa tahun mengembangkan usahanya itu, ia berhasil membangun usaha baru di bidang material (bahan bangunan). Atas keberhasilannya ini, banyak orang yang dibuat terkejut dan takjub kepadanya. Bagaimana dia bisa mengembangkan usahanya hingga se-berhasil itu? Apa saja tipsnya?

Ternyata Sam’an tak punya tips khusus. Ia hanya berusaha mengembangkan usahanya itu secara alami saja. Ramah dan sopan kepada pelanggan serta harga yang terjangkau, hanya itu yang bisa dia berikan kepada orang. Karena itulah, usahanya bisa berkembang dengan pesat.

Ajian Penglaris

Namun, di tengah keberhasilannya itu terhembus isu yang tidak baik tentang dirinya. Konon, sebelum ia meraih kesuksesan itu, sebenarnya selama beberapa tahun Sam’an pernah jatuh bangun dalam membangun usaha sembakonya. Tak pernah sukses dan sulit sekali bersaing dengan usaha-usaha serupa yang banyak berkembang di daerah sekitarnya.

Setelah ia pergi ke orang pintar dan katanya mencari ilmu penglaris, sekonyong-konyong usahanya cepat berkembang. Usahanya tiba-tiba seperti dinaungi aura positif, sementara usaha-usaha orang lain tampak dinaungi aura negatif. Sehingga orang pun banyak berdatangan ke toko sembakonya.

Sam’an sendiri tidak pernah mengakui kalau dirinya memakai ajian penglaris. Namun, ia hanya mengaku bahwa ia pernah menemui orang pintar untuk konsultasi bisnis kepadanya. Tidak lebih dari itu. Baginya, itu adalah hak siapa saja untuk bisa melakukannya.

Konon, orang pintar yang ditemui oleh Sam’an itu jauh berada di luar Jawa. Saat menemui orang itu, Sam’an tidak pulang ke rumah beberapa hari. Hingga para pelanggannya sempat bertanya, ke mana Bapak Sam’an kok tidak kelihatan? Oleh istrinya selalu dijawab, ia sedang silaturrahmi ke sahabatnya di luar Jawa. Itu saja jawaban yang selalu diberikan oleh sang istri ketika Sam’an pergi ke luar Jawa, yang konon untuk mendapatkan ajian penglaris tersebut.

Kata beberapa tetangga, setelah pulang dari luar Jawa itu, Sam’an memang tampak lebih bergairah. Ia jauh lebih optimis dalam menatap masa depan. Dan tampak ia makin mudah mengumbar senyum kepada siapa saja, yang sebelumnya ia selalu kaku dan pendiam. Bagi sebagian orang, mungkin sikapnya ini agak aneh. Tapi, bagi Sam’an, inilah strategi bisnis yang mulai diterapkannya setelah pulang dari luar Jawa.

Berangkat Haji

Akhirnya, Sam’an pun pergi ke tanah suci. Banyak orang yang mengiringi keberangkatannya. Semua orang berharap ia akan menjadi haji yang mabrur. Namun, dari semua kisah yang membahagiakan ini, ada satu yang tersisa, yaitu Sam’an tidak mengajak istrinya untuk pergi haji bersama-sama. Kabar yang terhembus menyebutkan bahwa mentalnya belum siap untuk menyandang gelar haji. Sebab, selama ini ia jarang sekali mengikuti pengajian. “Mungkin kesempatan lain saja,” ujar istri Sam’an beralasan kala itu.

Orang yang berhaji dari kampung x, selain Bapak Sam’an ada beberapa orang lagi, termasuk saksi yang bercerita kepada Hidayah ini. Namun, ia tidak mau dibukakan identitasnya karena tidak berkenan akan menyakiti hati sahabatnya tersebut. Nah, dari si saksi inilah kita tahu apa yang dilakukan oleh bapak Sam’an selama berhaji.

Menurutnya, selama berhaji bapak Sam’an selalu tidak kelihatan di maktab (pemondokan). Entahlah, apa yang ia lakukan? Awalnya, ia menduga kalau Sam’an akan melakukan ibadah shalat di masjid atau melakukan kebaikan-kebaikan lainnya. Namun, ketika ditanya oleh si saksi ini, Sam’an selalu menjawabnya hanya jalan-jalan seputar kota Makkah.

Sang saksi pun menganggapnya sebagai hal yang wajar saja. Mungkin mumpung ada di Makkah, jadi ia penasaran ingin mengetahui banyak tentang kota ini. Namun, suatu kali Sam’an meringis kesakitan di jempol kaki kanannya setelah bepergian dari suatu tempat. Saat ditanya, ia menjawab kalau kakinya baru saja terkantuk batu besar. Ia tidak menyadarinya saat itu bahwa saat berjalan ada batu besar di depannya. Yang ia lihat seperti lapisan yang datar da halus saja.

Sam’an ditanya oleh sahabatnya, “Sam, emang kamu dari mana saja sih, kok jarang kelihatan. Kalau pergi gak bilang-bilang?”

“Jalan-jalan saja, nyari udara segar,” jawabnya tidak mau berterus terang.

“Kita lagi ibadah Sam, jadi jangan nyari yang macam-macam. Kita khusus beribadah saja selama di sini,” pesan sang sahabat.

“Iya, aku juga tahu kalau soal itu,” jawabnya tidak mau mengalah.

Namun, di saat hendak meninggalkan Makkah menuju Madinah, Sam’an pun mulai berterus terang kepada sahabatnya. Ia mulai mengakuinya setelah rasa sakit di jempolnya itu tidak pernah hilang. “Saya sebenarnya sedang mencari tempat keramat di Makkah,” terang Sam’an pada sahabatnya.

“Maksudmu, Sam?” ujar sang sahabat penasaran.

“Kemarin saya sering gak ada di maktab, sebenarnya lagi nyari ajian penglaris. Saya jalan-jalan saja, mencari tempat yang saya anggap keramat,” jelas Sam’an dengan mudahnya.

“Taubat kamu, Sam. Kalau ingin mendapatkan itu, kamu berdoa saja kepada Allah. Semua tempat di sini pasti diijabah oleh Allah. Lagi pula, ngapain sih kamu punya tujuan itu semata. Kita di sini hanya untuk beribadah kepada Allah,” jelas sang sahabat panjang lebar.

Sam’an terdiam. “Mungkin karena ini, jempol kakiku masih sakit,” ujar Sam’an mulai berbicara lagi.

“Ya sudah, pokoknya kamu bertaubat saja kepada Allah dan hilangkan pikiran kamu yang satu itu,” jelas sang sahabat yang masih kelihatan terheran-heran atas ulah Sam’an tersebut.

Mereka pun meninggalkan kota Makkah menuju Madinah untuk melakukan ibadah shalat sunnah.

Lukanya Masih Ada

Setelah menjalankan ibadah ritual di Makkah dan Madinah, Sam’an pun akhirnya pulang ke Indonesia. Kepulangannya disambut meriah oleh keluarga dan sebagian tetangga. Bahkan, setelah berada di rumah, selama beberapa hari rumahnya masih dikunjungi oleh orang untuk mengucapkan selamat atas gelar baru yang disandangnya, yaitu Haji Sam’an (H.Sam’an).

Namun, satu hal yang belum bisa dimengerti oleh H. Sam’an hingga sekarang adalah kenapa lukanya tidak sembuh juga, padahal sudah beberapa minggu lamanya? Bahkan, satu waktu pernah ia rasakan sangat sakit sekali dan menyemburkan bau yang tidak sedap.

“Ya Tuhan, apakah taubatku tidak Engkau terima? Apakah harus aku tinggalkan usaha ini dan memulainya dari nol lagi? Aku sadar bahwa semua hasil usaha dan uang yang aku gunakan untuk berhaji adalah uang dengan cara yang tidak benar. Tapi, separah inikah Engkau mengujiku, ya Allah?” keluh Sam’an pada sahabatnya suatu waktu.

Apakah Sam’an akan meninggalkan usahanya dan memulainya dari nol lagi dengan cara yang benar agar sakitnya sembuh? Ataukah, ia tetap dengan caranya yang salah dan lukanya pun tetap ia rasakan hingga kapanpun, sebelum Tuhan benar-benar menyembuhkannya. Wallahu a’lam bil shawab!

Minggu, 01 Agustus 2010

USTADZ FULAN, "200 ribu Dapat Menutupi Kredit Rumah 1.300 ribu/bulan"

Ini bicara tentang ustadz yang mengisi acara kemarin, yaitu syukuran rumah sahabatku di Grand Kahuripan. Saya lupa namanya, sebut saja Ustadz Fulan. Dia berbicara banyak soal puasa dan suka duka tinggal di rumah BTN. Dengan berkelakar, ustadz itu menyingkat BTN dengan Bangunan Tidak Normal dan sebagainya. Kami pun tertawa mendengar ceramah agamanya yang dibalut dengan unsur parodi tersebut.

Tapi, bukan itu yang ingin saya tekankan di sini. Tetapi, tentang ustadz itu sendiri, yang bisa menyicil kredit rumahnya sebesar 1.300 ribu/bulan, padahal gaji pastinya saja sebulan sebesar 200 ribu. Kok bisa?

"Mungkin inilah yang dinamakan berkah," batin saya berucap. Karena berkah, Allah pun selalu memberikan jalan kepadanya. "Setiap tanggal 7 (jatuh tempo), alhamdulillah saya selalu saja ada uang segitu," ujar ustadz tersebut. Entahlah, apakah datangnya dari acara seperti ini (ngisi ceramah) atau yang lainnya.

Bila saya pelajari sekilas, kenapa ustadz selalu menemukan kemudahan untuk menutupi kredit rumahnya, karena hidupnya diabdikan untuk ummat alias kepentingan Islam. Ia mengajar anak-anak belajar agama. Ini pekerjaan utamanya. Kalau ia diundang ceramah, itu hanya kebetulan semata.

Sama seperti nasib ustadz Fulan, terjadi keanehan juga pada sosok Baen. Gajinya hanya 3 juta sebulan, tapi ia punya pengeluaran pasti sebulan sebesar 7 juta (tagihan kartu kredit, kredit rumah, kredit motor, kredit 3 bank, kredit mesin cuci, dan sebagainya). Tetapi, selalu saja ia bisa menyicilnya tanpa pernah putus di tengah jalan. Sang debt collector tak pernah datang ke rumahnya. Bahkan, ditelpon peringatan juga tidak pernah dari pihak bank. Baen sendiri kadang bingung dengan kenyataan yang dihadapinya tersebut.

Menurut Baen, karena ia memelihara anak yatim. Jadi, hidupnya berkah. Dus, pesan dia, kalau hidup kita selalu diberikan kemudahan, hendaklah banyak bersedekah atau berbuat kebaikan di jalan Allah, seperti santuni anak yatim piatu, para janda dan kaum dhuafa. Insya Allah, hidupnya akan mudah -termasuk menyicil tagihan kita yang secara rasio sangat sulit bisa dipenuhi.

Sudahkah Anda mencoba!

SAEF, "Sedekah 20 ribu Dapat Proyek 20 Juta"

Sekitar tahun 2002, kios yang ditempati SAEF di Ciputat terbakar. Kebakaran itu bermula dari pemasak air listrik yang konslet. Seluruh barang berharga miliknya ikut hangus, seperti radio baru yang dibelinya sebulan yang lalu. Yang lebih penting lagi, tulisan-tulisan dia di media massa: Kompas, Aksi, juga ikut ludes tak tersisa.

Hati Saef sebenarnya sedang terluka, tapi ia tak menampakkan kesedihan sama sekali. Bahkan, saat istri sang teman menghampirinya untuk pinjam uang sebesar 20 ribu, ia tetap meminjamkannya. Bagi Saef yang masih berstatus mahasiswa, jelas uang itu ia butuhkan -apalagi sehabis kiosnya terbakar. Tetapi, di tengah derita yang diterimanya itu, ia justru masih membantu sahabatnya. Tanpa pikir panjang lagi. Saat itu, sang teman bilang hanya meminjam, tetapi Saef mengikhlaskannya kalau suatu saat ia tidak bisa membayar.

Tujuh tahun kemudian. Sahabat Saef menjelma menjadi orang yang cukup sukses. Ia mendapatkan banyak proyek. Tiba-tiba sahabat itu ingat pada Saef. Maka diberilah Saef sebuah proyek bernilai 20 juta. Sebuah proyek yang cukup besar tentunya. Menurut sang sahabat, beberapa kali proyek itu diberikan kepada orang, tetapi selalu saja gagal diwujudkan. Tiba-tiba ia ingat dengan sahabatnya tujuh tahun yang lalu itu, dan segera ia memberikan proyek itu kepadanya. Maka jadilah proyek itu. Saef dapat uang dan sahabatnya dapat pujian dari bosnya.

Demikian kisah inspiratif yang perlu kita pelajar. Dari kisah ini nampak bahwa sedekah yang ikhlas itu, berapapun nilainya, pasti akan dilipatgandakan oleh Allah: besok, lusa atau kapan saja. Apakah Saef menyangka bahwa uang 20 ribu yang ia berikan itu, tujuh tahun kemudian berubah menjadi 20 juta. Ingat, berapa kali lipatkah yang didapatkan oleh Saef atas kebaikan yang ia lakukan. Semoga kita bisa belajar dari kebaikannya ini!

Sabtu, 31 Juli 2010

SUBHAN, "Anak SMA Pencipta Gelombang Radio"

"Saat remaja tak tampak bahwa ia akan bisa seperti ini..."

Begitu komentar Kael tentang kakaknya. Sejak SD, SMP, hingga SMA, Subhan selalu disekolahkan ke lembaga-lembaga agama. Hal inilah yang membuatnya tidak bisa berprestasi. Rupanya, ia tidak berminat dalam bidang itu. Karena itu, saat masa-masa itu, bakat Subhan tak pernah terlihat.

Bakatnya mulai menonjol justru saat selesai Aliyah (SMA). Dia mulai senang mengotak-ngotik elektronik, seperti radio, kipas angin, dan tv. Hasilnya, dia bisa mereparasi dan memperbaiki barang-barang elektronik yang rusak, tanpa belajar terlebih dahulu. Semua itu ia pelajari dari buku.

Prestasi spektakuler yang ia lakukan kemudian adalah bisa menciptakan gelombang radio yang bisa mengudara bernama Polos FM. Gelombang ini bisa didengarkan se-kecamatan Karangampel, Indramayu. Bagi sebagian orang, prestasi ini sungguh mengejutkan. Sebab, tak ada orang yang mengajarinya untuk bisa menciptakan gelombang radio. Lagi-lagi, semua ia lakukan karena otodidak mempelajarinya dari buku-buku elektronik.

Sayang, gelombang ini tak bisa berkembang setelah beberapa tahun mengudara. Tidak adanya SDM yang mengisi Polos FM, membuat gelombang radio ini ditinggalkan penggemar.

Gebrakan Subhan tidak berhenti sampai di situ. Dia mulai memasuki wilayah komputer. Ia mempelajarinya sendiri dari buku. Dalam waktu singkat, ia bisa menguasai beberapa sofware di dalam komputer. Bahkan, piranti keras (hardware)pun ia kuasai. Kini, di rumahnya, tidak saja ia membuka bisnis internet -selain kerja kantoran di Pertamina, tapi juga menyediakan servis komputer. Sebuah prestasi tersendiri tentunya, bagi seorang yang tidak punya spesialis apapun di bidang elektronik.

Dari sini kita bisa belajar bahwa ilmu apapun bisa dipelajari dengan mudah, jika kita sungguh-sungguh. Banyak ilmu pengetahuan terbentang di buku-buku dan internet. Kita tinggal mengunduhnya. Semakin sering kita melakukannya, maka semakin pula kita menjadi pintar.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi kita semua. Amien

Jumat, 30 Juli 2010

KAEL, "Ucapan Sahabat Menyembuhkanku"

"Jika saja dia tidak berkata demikian saat itu, entahlah apa yang terjadi padaku"

Sejak kecil aku sebenarnya termasuk siswa yang berprestasi. Juara umum kerapkali kusandang, mulai dari SD hingga SMA. Bahkan, saat kuliah aku meraih gelar cum laudge. Tidak saja prestasi akademik, prestasi ekstrakurikuler pun kugenggam: aku juara qari, tenis meja, bulu tangkis, catur, sudoku, kelereng, layang-layang, mancing, menulis dan sebagainya.

Namun, semua itu berubah pada pertengahan tahun 2003. Aku terkena pterigium (pembengkakan mata secara abnormal). Mata kananku pernah dioperasi dua kali di rumah sakit terkenaldi Jakarta. Tapi belum sembuh juga. Hal inilah yang membuatku stres. Aku selalu berpikir negatif setiap hari, hingga membuat syaraf otakku terganggu. Makin lama, otakku benar-benar tak bisa digunakan lagi secara maksimal. Aku hanya bisa menggunakan 50% dari semua kemampuanku.

Selama sakit itu, aku menjadi seorang pelupa. Apa yang kuingat detik ini, dua detik kemudian bisa jadi lupa. Karena sakit ini pula pembawaanku selalu ingin tidur. Tidak ada gairah dalam hidupku. Aku benar-benar menjadi seorang yang super bodoh.

Aku diledek, dihina dan dicaci maki. Sebab, aku yang dulu bisa menulis tiba-tiba berubah menjadi tidak bisa. Aku yang dulu cerdas dan cepat menangkap persoalan berubah menjadi idiot. Singkat kata, aku benar-benar menjadi terhina.

Saat aku berkeluh kesah pada orang lain, yang kuterima hanyalah hinaan dan cemoohan. "Emang kamu saja yang tidak bisa menulis," ujar salah seorang sahabatku. "Tidak. Aku sebenarnya bisa menulis, hanya saja aku sedang sakit." Aku ingin sekali mengatakan demikian, tapi mulutku seperti terkunci.

Satu hal lagi, akibat sakit ini pula aku yang tadinya vokal dalam diskusi berubah menjadi pasif. Tidak ada ide dalam pikiranku. Aku hanya menjadi penonton dari sahabat-sahabatku yang pintar-pintar.

Tapi, dalam hati aku berjanji, bahwa suatu saat mereka akan mengerti bahwa apa yang mereka katakan adalah salah. Aku tidak perlu membuktikannya, sebab bukti itu akan datang sendiri dan mereka pun akhirnya menyadarinya.

Semua derita yang kualami itu mulai berubah pada pertengahan 2008. Saat itu aku sedang duduk di bawah pohon. Tiba-tiba seorang sahabat menghampiriku. Perbincangan pun bermuara pada kondisiku yang sedang sakit. Dia sebenarnya tidak perduli dengan ucapanku. Dia juga sinis. Namun, dia kemudian mengucapkan beberapa kata, yang akhirnya menyadarkanku. Dia berujar, "Kael, jangan kamu pikirkan penyakitmu. Anggap saja kamu sedang sehat."

Kalimat itu seperti petir yang menyambar tubuhku. Aku bergetar. Meski aku sering mendengar kalimat itu, baik lewat televisi, buku atau kata-kata orang lain, tapi perkataan temanku saat itu di mataku sangat lain. Kata-kata itu memiliki makna lebih. Mungkin karena saat itu bulan suci Ramadhan, sehingga maknanya terasa berbeda.

Sejak itu, aku pun mulai membuang xendo xitrol yang selalu menetesi mata merahku. Aku juga melenyapkan obat-obatan lain, yang bukannya menyembuhkanku, tapi malah selalu mengingatkanku akan semua penyakitku. Sejak itu, aku berusaha tanamkan dalam diriku bahwa aku sehat. Tidak terjadi apa-apa pada diriku.

Selama beberapa bulan aku mengamalkannya, hidup kurasakan mulai enak. Pikiranku mulai bisa fokus. Mataku yang tadinya super sakit, dengan sendiri berubah menjadi agak adem. Akhirnya, aku benar-benar mulai berubah. Jika sebelumnya, hanya 50% kekuatan otakku kufungsikan, mungkin sekarang bisa mendekati 80%. Jadi, 20% lagi sedang dalam proses pemulihan. Sebab, aku kadang masih merasakan kurang fokus dan tidak kuat ingatan. Mudah2an, tahun depan semuanya menjadi lebih baik lag.

Demikiah kisah sejati yang menimpaku. Berkat ucapan sahabat, Allah mengizinkanku untuk sembuh. Terima kasih sahabat. Kebaikanmu tak pernah bisa kulupakan. Meski saat itu, kamu tidak bermaksud menasehatiku, tapi aku anggap itu sebagai pesan yang sangat berharga. Suatu saat aku pasti akan berkata jujur padamu bahwa kamulah orang yang telah menyelamatkan sebagian hidupku. Sekali lagi, terima kasih kawan!

RITA, "Menghajikan Ayah Dapat Umroh Gratis"

“Entahlah, tak pernah kubayangkan jika kebesaran-Mu itu datang secepat itu…”

Aku adalah seorang wanita yang sudah cukup dewasa (lahir 31 Oktober 1968). Usiaku pada kisaran 42 tahun. Aku telah memiliki seorang suami, tapi belum dikaruniai anak. Sejauh ini aku dan suami tetap bersabar. Bagiku, jodoh, mati, rejeki dan anak sudah dalam barisan “takdir Tuhan.” Meski begitu, aku tak pernah berhenti untuk berdoa dan berusaha. Hanya saja, apapun hasilnya, aku tetap tawakkal kepada Allah.

Sebagai seorang wanita, aku pantas bersyukur kepada Allah. Meski belum dikaruniai anak, tapi aku memiliki seorang suami yang sabar dan baik hati. Dia memberikan kesempatan seluas-luasnya kepadaku untuk berekspresi dan berkreasi, termasuk aktif di masyarakat.

Alhamdulillah, atas izin Allah aku mendapatkan posisi yang cukup baik di salah satu kelurahan di Palembang (narasumber minta jabatannya jangan disebutkan). Posisi ini merupakan sebuah amanah dan aku berusaha untuk tidak menyia-nyiakannya.

Namun, di tengah kebahagiaan yang kuraih sebagai seorang perempuan, ibuku yang paling kucintai dipanggil Yang Maha Kuasa untuk selama-lamanya ke alam baka pada 14 Desember 2007. Tentu saja ini adalah sebuah “beban psikologis” seorang anak. Aku bersedih, karena selama ini ibu selalu mengajariku agar bisa amanah dalam menjalankan tugas dan tidak menyia-nyiakannya. Ibu seringkali berpesan bahwa jabatan itu, di satu sisi, merupakan “berkah”, tapi di sisi lain sebenarnya adalah “ujian”. Sebuah test yang menentukan sejauh mana seorang hamba akan tetap berada pada jalur yang benar ataukah tidak!

Aku tidak menyesali kepergian ibu ke alam baka, sebab ini sudah “digariskan” dalam lauh al-mahfudz. Hanya saja, aku menyesal dalam satu hal: aku belum sempat menghajikannya. Padahal, aku dan adik-adikku, senang sekali bisa melihat ibu bisa pergi ke tanah suci. Namun, sebelum niat itu terpenuhi, sang ibu telah dipanggil untuk menghadap-Nya.

Atas kenyataan itu, aku pun tidak ingin jatuh pada lobang yang sama. Aku tidak ingin larut dalam kesedihan untuk kedua kalinya. Aku ingin menghajikan ayah. Mumpung ayah masih bisa bernafas. Ya, aku tidak ingin nasib ayah seperti ibu, yang belum sempat menikmati indahnya tanah suci.
Niat ini pun kuutarakan pada adik-adikku. Tanpa kuduga, mereka ternyata memberikan dukungan yang penuh. Bahkan, mereka turut “patungan”. Akhirnya, dana pun terkumpul sebesar 20 juta. Lalu, aku pun mendaftarkan ayah untuk berhaji. Sayang, ayah baru bisa berangkat ke tanah suci tahun 2014.

Namun, kami tidak menyesalinya. Aku dan adik-adikku sudah merasa “plong” karena akhirnya ayah terdaftar juga sebagai calon haji –meski waktu keberangkatannya masih lama. Mudah-mudahan ayah diberi umur yang panjang, sehingga pada waktunya ia bisa berangkat ke sana.

Ayah sendiri begitu terkejut saat mendengar bahwa ia telah didaftarkan untuk ibadah haji. Betapa tidak, di tengah kesederhanaan hidupnya, namun Allah masih memberikan kesempatan buatnya untuk bisa menengok Baitullah –meski lewat seorang anak.

Di depan anak-anaknya, ayah menangis terharu. Ia masih tidak bisa membayangkan, betapa karunia Allah yang besar itu telah hadir di pelupuk matanya. Sebentar dan tidak akan lama lagi. Hal itu serasa mimpi baginya. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Bagiku, ayah sangat pantas mendapatkan semuanya itu. Bahkan, dengan niat baik dari anak-anaknya ini, tetap tidak bisa menggantikan segala kebaikan yang pernah diberikannya kepada kami. Ini hanya secuil. Kebaikannya tak tergantikan.

Dus, apa yang diperoleh ayah semata-mata karena perilaku ayah sendiri, yang telah mendidik anak-anaknya sedemikian ikhlasnya. Hingga kami bisa tumbuh untuk memiliki rasa empaty kepada orang tua. Mungkin inilah balasan Allah kepada ayah, melalui rejeki anak-anaknya.

Kini, setelah dipastikan akan naik haji, kami membelikan beberapa buku pedoman haji untuk dibacanya. Tidak ada maksud apa-apa, selain menambah pengetahuan ayah tentang ibadah haji. Supaya, kelak, ayah tidak terkejut lagi saat berada di sana.

Aku melihat ayah cukup antusias untuk melakukan semua persiapan itu. Semoga pada waktunya nanti, ayah bisa beribadah haji dengan baik dan menjadi haji yang mabrur. Jaga kesehatanmu ayah dan semoga Allah memberikan panjang umur untukmu. Itu doaku dan doa kami semua.

Hadiah Umrah

Dua minggu telah berlalu. Sejak aku mendaftarkan haji untuk ayah, aku mendapatkan kabar dari kantor bahwa aku dapat hadiah (reward) berupa umrah. Awalnya, aku tidak begitu percaya mendengarnya. Namun, setelah ku-kroschek ternyata kabar itu benar adanya.

Aku hampir tidak percaya dengan kenyataan ini. Apakah ini terkait dengan kebaikan yang aku tanam dua minggu yang lalu? Padahal, aku tidak berharap dan memintanya begitu cepat. Jika hal ini ada kaitannya, berarti Tuhan Maha Sayang. Tuhan Maha Mendengar. Dan Tuhan Maha Besar.

Ini sangat sesuai dengan konsep Islam bahwa janganlah kita takut untuk menanam kebaikan. Sebab, suatu saat, Allah pasti membalasnya: besok, lusa atau kapan saja. Apa yang kualami, berarti Allah membalas kebaikanku begitu cepat.

Aku sendiri, secara pribadi, tidak pernah mengharap kebaikanku pada ayah akan dibalas Allah. Sebab, yang kulakukan sudah sewajarnya harus dikerjakan oleh seorang anak kepada orang tuanya. Ketika kita mampu, maka tidak ada salahnya rejeki ini dibagikan kepada orang tua kita. Namun, setelah yang terjadi padaku ini, aku semakin berpikir tentang Kejujuran Allah. Berarti, Allah telah menepati janji-Nya, yang akan membalas setiap kebaikan yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.

Aku mendapatkan hadiah umrah dari pemerintah kota Palembang karena termasuk dalam daftar pejabat kelurahan yang berhasil turut merelasisasikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tahun 2009 yang lalu. Apabila pembayaran PBB sudah tercapai minimal 90 persen sebelum jatuh tempo, 30 September 2009, maka akan mendapatkan hadiah tersebut. Ternyata, aku dan teman-temanku, bisa memenuhi terget tersebut. Maka berangkatlah aku ke tanah suci untuk umrah.

Bagiku, reward ini adalah sebuah hal yang sangat positif dalam kebijakan pemerintah kota Palembang. Dengan reward ini, tentu diharapkan banyak pejabat kelurahan yang mau bekerja keras untuk bisa merealisasikan pembayaran PBB tepat pada waktunya dengan nilai yang sudah ditentukan. Yang lebih membanggakanku lagi, bahwa reward ini bukan bersifat materialistis (jalan-jalan ke luar negeri misalnya), tapi bersifat spiritualis yakni umrah. Sebagai warga kota Palembang, aku sangat bangga dengan kebijakan ini.

Aku berangkat umrah pada 24 Februari 2010 bersama 9 rekan pejabat kelurahan lainnya dan beberapa pegawai dari Dinas Pendapatan Daerah Kota Palembang. Kami berangkat melalui agen travel TAZKIA (Pimpinan Ustad Dr. H. Antonio, seorang mualaf keturunan Cina).

Dalam umrah ini aku mengajak suami (biaya sendiri). Kenapa aku mengajak suami? Karena kami berniat untuk berdoa di depan Ka’bah dan meminta kepada Allah agar diberikan momongan setelah hampir 7 tahun mengarungi rumah tangga (menikah tanggal 20 April 2003). Mudah-mudahan Allah mengabulkan doa kami! Amien.

Setelah 9 hari umrah, pada 04 Maret 2010 kami pulang ke Indonesia dalam kondisi sehat walafiat. Alhamdulillah, banyak pengalaman yang kami rasakan selama berada di sana, salah satunya adalah aku dan suami bisa mencium hajar aswad. Sungguh ini adalah suatu pengalaman yang tak terlupakan. Sebab, untuk bisa menggapai hajar aswad dan menciumnya, kami harus menembus kerumunan orang dulu yang mempunyai tujuan yang sama.
Suamiku sendiri harus melalui dinding Ka’bah untuk menembus kerumunan orang tersebut. Awalnya susah sekali karena ketika hampir sampai beberapa kali dia terpental. Tapi dia tak memaksakan diri dan terus bersabar. Hingga akhirnya tiba-tiba sebuah celah terbuka di hadapannya. Celah itu seperti jalan masuk menuju arah hajar aswad . Dalam hitungan detik tiba-tiba dia dapat mencium hajar aswad. Subhanallah, akhirnya dia dan aku dapat mencium hajar aswad dengan lancar.

Aku berusaha instrospeksi diri atas apa yang kualami itu. Apa ada kebaikan yang pernah kami lakukan sebelumnya, selain berniat menghajikan ayah? Ternyata ada. Sebelum berangkat umrah, ada suatu kejadian yang mengharuskan kami bersabar. Saat itu, tinggal satu jam lagi kami seharusnya sudah berada di bandara. Lantaran hujan deras, jalanan menjadi macet. Sementara kami harus menjemput orang tua dan mertua dulu.
Tiba di rumah mertua tiba-tiba anak tetangga minta tolong untuk mengeluarkan mobilnya yang terjepit, sehingga hampir menyentuh tembok rumah dan pagar. Sebetulnya saat itu kami ingin cepat pergi menuju bandara karena takut telat bording-pass. Namun, nurani kami mengatakan bahwa kami harus menolong anak tetangga itu. Akhirnya mobil itu dapat keluar dan setelah itu kami baru berangkat ke bandara. Mungkin lantaran menolong orang yang mobilnya terjepit inilah, di tanah suci kami bisa mencium hajar aswad. Wallahu a’lam bil shawab!

Demikian pengalaman spiritual yang kami rasakan. Aku menceritakan kisahku ini tidak ada maksud apapun, selain tahadduts bil nikmah. Semoga hal ini bisa menjadi inspirasi bagi semuanya! Amien.

JHONI KASTARI, "Anakku Menyadarkanku"

Aku adalah lelaki berkacamata. Sejak kecil aku hidup dalam keluarga yang mapan. Makan enak, seperti chicken, sea food, pizza adalah hal biasa bagiku. Ke mana pergi, aku selalu pakai kendaraan mobil. Singkat kata, aku bangga dengan keadaanku saat itu.

Namun, keadaan demikian justru membuatku bersikap angkuh. Aku merasa seperti orang hebat karena berasal dari keluarga yang mampu. Aku seringkali melecehkan orang yang tidak mampu. Ketika sedang bertemu dengan orang miskin, aku meledeknya.

Aku kemudian menikah dengan seorang gadis yang kucintai. Aku pikir kebiasaanku yang suka mabuk, ganja dan heroin akan hilang seiring perubahan statusku sebagai seorang suami. Nyatanya, aku masih sering melakukan semuanya itu. Mungkin juga karena pergaulanku yang tidak berubah, sehingga teman-teman juga turut mempengaruhiku untuk selalu berada dalam kondisi yang salah.

Anakku kemudian lahir. Di sinilah babak baru kehidupanku dimulai. Berawal saat aku menggendong bayiku -meski aku suka mabuk-mabukan, tapi naluri kebapakanku tetap tidak hilang. Namun, setiap kali aku menggendong bayiku, ia terus-terusan menangis. Kuberikan bayi itu pada istriku dan ia segera terdiam.

Hal itu menjadi tanda tanya buatku, ada apa sebenarnya? Berkali-kali kucoba untuk menggendongnya, tapi bayiku selalu menangis. Akhirnya aku berpikir, mungkin ini disebabkan oleh bau alkohol dari mulutku. Sejak itu aku pun memutuskan untuk mengurangi minum. Setelah itu, kucoba lagi untuk menggendong bayiku dan ternyata ia diam. Aku pun semakin yakin untuk berkesimpulan bahwa jika aku sayang anak, berarti aku harus meninggalkan minuman beralkohol.

Sejak itu, aku lupa waktu tepatnya, aku benar-benar meninggalkan minuman beralkohol dan makai ganja atau nikotin. Seiring dengan itu, bayiku pun semakin nyaman di pelukanku. Aku merasa bahagia sekali. Aku benar-benar seperti terlahir kembali. Aku merasakan telah menjadi seorang bapak yang seutuhnya.

Demikian kisah bagaimana seorang bayi mampu menyadarkan bapaknya. Semoga hal ini bisa menginspirasi semuanya, terutama bagi mereka yang suka mabuk-mabukan dan main ganja atau heroin, bahwa semua ini tidak ada berkahnya. Yang ada, bisa merugikan orang lain, termasuk anak atau istri kita sendiri. Semoga!